With the help of the Nature Conservancy and other partners, fisherman have learned the best practices for fishing sustainably.
Wahoo Fish With the help of the Nature Conservancy and other partners, fisherman have learned the best practices for fishing sustainably. © Kevin Arnold

Kisah Kami di Indonesia

Nelayan Kema, Melaut Sampai Jauh

"Kami biasa melaut sampai Laut Aru, Papua," Kata Rocky Cornelisz, Kapten Kapal Millenium 01. Nelayan Kema 2, salah satu wilayah di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, memang spesialis penangkap ikan dasar. Sedangkan nelayan Kema 3 merupakan penangkap ikan Pajeko. Ciri khasnya, kapalnya dipandu oleh kapal kecil yang membawa lentera. Nelayan Kema terbiasa mencari ikan jauh hingga Perairan Majene, Bacan, Ambon, Dobo, Tual, Panambulai hingga Kupang tergantung musim. Menurut Rocky, di Perairan Majene dan Mamuju stok ikan tidak sebanyak di perairan lain yang sering disambanginya karena masih banyak nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan bom ikan. Dasar lautnya pun berlumpur. Padahal ikan dasar lebih menyukai karang. Pria yang telah menjadi kapten selama 6 tahun ini memulai karirnya sebagai awak kapal biasa. Sebelumnya ia hanya nelayan kecil yang mencari ikan di sekitar perairan Kema, Sulawesi Utara. Saat itu ikan di sekitar Perairan Sulawesi Utara masih melimpah.

Seperti Rocky, kebanyakan warga Kema adalah nelayan Pajeko dan ikan dasar. Sisanya adalah petani, swasta dan pegawai pemerintah. Kapal-kapal kema umumnya dimiliki oleh orang kema. Hanya beberapa kapal yang dimiliki oleh orang dari Manado. Kapal penangkap ikan dasar dari Kema umumnya mempunyai bobot hingga 30 GT dengan awak kapal sekitar 14 hingga 16 orang. Sebagai penangkap ikan dasar, nelayan Kema memakai pancing ulur. Mereka biasa memancing di laut dengan kedalaman hingga 250 meter. Dengan bantuan FishFinder, Rocky dapat mengetahui kedalaman laut yang dilaluinya dan memperkirakan jenis ikan di kedalaman tersebut. Pengalaman membuatnya mengetahui jenis ikan-ikan yang hidup di kedalaman berbeda.

Kami biasa melaut sampai Laut Aru, Papua

Saat mencapai lokasi pemancingan yang biasanya dicapai setelah 5 hari berlayar, awak kapal segera melakukan pemancingan. Siang hari, mesin kapal tetap hidup saat awak kapal memancing ikan. Pada malam hari, mesin dimatikan dan jangkar dipasang. Pemancingan berlangsung pagi hingga sore. Jika pada malam hari masih ada ikan yang memakan umpan, pemancingan dilanjutkan. Biasanya awak kapal menggunakan banyak kail untuk memancing. Satu senar dipasang 5 hingga 7 mata kail. Jarak antar mata kail sekitar 1 meter lebih. Mata kail yang dipakai cukup besar. Biasanya ikan di atas setengah kilogram yang terpancing dengan kail ini. Ikan yang lebih kecil tidak tertangkap Karena mulutnya terlalu kecil. Biasanya ikan saramia. Ikan paling besar yang tertangkap adalah kerapu otang. "Beratnya Bisa sampai 110 kilogram," ujar Rocky. Kadang-kadang kail menancap pada karang sehingga terpaksa dipotong. Umpan yang dipakai bisanya ikan deho (tongkol).

Dalam sekali melaut yang berlangsung selama 2 minggu, satu kapal bisa memanen 4 ton ikan. Jika beruntung, nelayan bisa membawa pulang 6 hingga 7 ton ikan. Jika sedang sial, hanya 2 ton ikan yan tertangkap. Tetapi, jarang sekali kurang dari 2 ton ikan. Hal ini menunjukkan betapa perairan Maluku dan Papua masih meruah dengan ikan. Paling tidak dibutuhkan modal sebesar 50 juta sekali melaut dan es seberat 15 ton untuk mengawetkan ikan. Biaya sebesar itu ditanggung oleh pemilik kapal. Setelah ikan terjual, hasil penjualan dikurangi modal sebelum dibagi diantara pemilik kapal, kapten, dan awak kapal.

Rocky dan kapal-kapal lain di Kema menggantungkan penjualan ikan dasar pada perusahaan eksportir ikan. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku. Sementara ikan lokal di jual di pasar lokal. Di Kema sendiri terdapat pengepul ikan yang bersedia menerima ikan lokal. Pelabuhan kecil Kema juga dilengkapi dengan pelelangan ikan meskipun seringkali ikan tak masuk pelelangan karena sudah habis terbeli. Pengepul biasanya langsung membeli seluruh ikan lokal tangkapan.

Ikan yang ditangkap oleh nelayan di Tetap Setia, sebuah kapal yang berpartisipasi dalam program FishFace TNC, difoto di papan pengukur di Indonesia
FishFace Ikan yang ditangkap oleh nelayan di Tetap Setia, sebuah kapal yang berpartisipasi dalam program FishFace TNC, difoto di papan pengukur di Indonesia © Ed Wray

Sayangnya harga ikan lokal berfluktuasi. Kadang-kadang jika pasokan kurang, harga merambat naik. Sebaliknya jika ikan melimpah, harga menukik turun. Heintje, salah satu pemilik kapal di Kema berusaha membuat alternatif dengan membuat fillet ikan kakap merah sehingga nelayan punya alternatif pemasaran dan harga ikan punya nilai tambah. Heintje tahu betul kesulitan nelayan. Sebagai pemilik kapal, Heintje juga menghadapi kesulitan lain dalam mengoperasikan kapal. Biaya perawatan termasuk tinggi. Tak heran jumlah kapal yang beroperasi menurun. "Dulu sekitar 30-an kapal. Kini hanya 20-an kapal yang beroperasi. Banyak yang sedang diperbaiki," ujar Rocky. Heintje juga harus bersaing dengan pemilik kapal lainnya untuk mendapatkan awak kapal. Tak sedikit awak kapal yang semula akan bekerja di kapalnya, tiba-tiba beralih ke kapal lain karena iming-iming bayaran yang lebih besar. Kesulitan mencari awak kapal membuat jadwal keberangkatan kapal tertunda. Tapi bukan itu saja persoalan yang merisaukan pemilik tiga kapal ini. Awak kapal seringkali tak punya perencanaan keuangan yang baik. Hasil melaut selama dua minggu segera menguap. Nyaris tak ada uang yang ditabung," lanjut Heintje di rumahnya yang besar di Kema. Walhasil mereka harus segera melaut lagi untuk mendapatkan uang lagi.

Kapal Millenium 01 sudah setahun lebih terlibat dalam CODRS. Crew Operated Data Recording System (CODRS). Selain bermitra dengan nelayan Kema, TNC juga bermitra dengan 139 nelayan di Bali, Kupang, Probolinggo, Lamongan, Galesong, Bontang, Balikpapan, Luwuk, Kema, Tual, Sorong, Dobo, dan Timika. Tujuannya adalah untuk menjawab masalah teknis yang berkaitan dengan informasi cadangan ikan dan menyediakan informasi yang dapat dimanfaatkan oleh penggelola dan penguna dalam industri perikanan. Metodenya cukup sederhana. Awak kapal akan memotret ikan tangkapan di atas papan ukur yang telah disediakan sebelum ikan dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan palka. Foto-foto tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui distribusi ikan berdasarkan frekuensi panjang ikan. TNC melengkapi kapal-kapal ikan dengan vessel tracking unit atau Spot Trace untuk mengetahui posisi kapal dan mengetahui waktu dan lokasi penangkapan ikan. Pergerakan kapal-kapal bisa dipantau di I-fish. I-fish dapat diakses oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, TNC serta pemilik kapal yang ingin mengetahui posisi kapalnya. Rocky berharap setelah mengetahui melimpahnya jenis ikan yang tercatat dalam program ini, semakin banyak investor yang datang ke Kema untuk menanamkan modal dalam industri perikanan Kema.