View of a forest in East Kalimantan, Indonesia.
Indonesia View of a forest in East Kalimantan, Indonesia. ©: Nick Hall

Kisah Kami di Indonesia

Menuju Masa Depan Keanekaragaman Hayati

Kepemimpinan yang Bertanggungjawab

Sepanjang karier saya di sektor perdagangan internasional, pengembangan usaha, dan perbankan, salah satu fokus utama adalah bagaimana agar modal finansial bisa utuh terjaga. Modal yang terkuras habis adalah penyebab utama kebangkrutan. Pengetahuan teknis saya diketiga bidang tersebut adalah alat ampuh untuk mencegah penipisan modal dan membantu perusahaan tumbuh.

Sekarang, ketika menjabat Country Director The Nature Conservancy (TNC) Program Indonesia, prinsip utamanya sama, tetapi berlaku pada skala yang jauh lebih besar. Kasarnya, jika modal alam kita habis, seluruh basis ekonomi dan sumber penghidupan kita terancam. Sebagaimana dikatakan oleh mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, satu-satunya cara untuk menghentikan bencana di depan mata adalah, “mengubah visi pembangunan agar sesuai... Baru sekarang kita melihat sumber daya alam yang rusak parah sebagai hambatan. Masalah ini tidak hanya perlu diperhatikan, tapi juga sudah mengancam hidup kita.”

in Tanjung Puting National Park in Borneo, Indonesia.
An orangutan in Tanjung Puting National Park in Borneo, Indonesia. © Katie Hawk/The Nature Conservancy

The Nature Conservancy bangga bermisi mengatasi masalah tersebut melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. TNC adalah yang terdepan dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan dan sarana bisnis untuk menunjukkan bagaimana strategi konservasi bisa menyediakan solusi efektif atas tantangan global utama, seperti ketahanan pangan dan air, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta pengurangan risiko bencana.

Dengan demikian, kami menawarkan pendekatan dan sarana praktis yang memungkinkan dilakukannya pemanfaatan alam secara berkelanjutan, serta saran yang dipandu ilmu pengetahuan dalam berinvestasi pada alam sebagai penyedia solusi, kepada pemimpin di pemerintahan, masyarakat, dan dunia usaha. Melalui cara ini, pembuat kebijakan, sektor usaha, dan pemangku kepentingan lainnya bisa menerapkan kepemimpinan yang bertanggung jawab demi masa depan yang berkelanjutan lewat konservasi dan investasi pada modal alam di Indonesia.

Mencegah Dampak Pembangunan

Kepemimpinan yang bertanggung jawab diperlukan untuk memutus siklus buruk kemiskinan, ketidaksetaraan, polusi, tergerusnya sumber daya alam, dan konflik sosial. Dalam artikel bisnis dan lingkungan hidup berjudul “Beyond Greening: Strategies for a Sustainable World” yang dimuat di Harvard Business Review tahun 1997, Stuart Hart berpendapat bahwa dampak negatif sistem ekonomi global adalah akibat bentrokan berbagai sistem ekonomi dunia. Sistem-sistem tersebut di antaranya, ekonomi pasar yang dominan, ekonomi kelangsungan hidup yang pada dasarnya adalah ekonomi pedesaan dengan prinsip hanya sekadar bertahan hidup, dan ekonomi alam.

Ekonomi alam penting keberadaannya bagi ekonomi pasar maupun ekonomi kelangsungan hidup. Namun nyatanya, modal alam yang menjadi dasar sumber daya terbarukan maupun tak terbarukan berkurang dengan cepat. Karena sektor usahalah yang menghasilkan teknologi penggerak ekonomi, Hart berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan harus mengambil peran sebagai pemimpin menuju keberlanjutan melalui penerapan strategi lingkungan terpadu yang bukan hanya memasarkan produk, tetapi juga mengedukasi konsumen tentang tanggung jawab lingkungan. Demikian pula pembuat kebijakan pemerintah. Mereka harus memimpin dengan kebijakan publik inovatif yang mengarah pada keberlanjutan.

Indonesia Kaya Keanekaragaman Hayati

Indonesia adalah salah satu negara dengan warisan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Oleh sebab itu, Indonesia akan rugi besar jika sampai terjebak dalam skenario dampak pembangunan. Kepulauan Indonesia terdiri atas lebih dari 10.000 pulau dan merupakan rumah bagi kawasan hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Indonesia memiliki spesies mamalia terbanyak di dunia, dan spesies ikan kedua terbanyak setelah Australia. Indonesia menempati urutan keempat spesies burung terbanyak di dunia dengan total 1.539 spesies. Hutan Indonesia menaungi lebih dari 25.000 spesies tumbuhan berbunga, kedua terbanyak setelah Amazon. Selain itu, banyak spesies flora dan fauna endemis yang hidup di Indonesia. Artinya, mereka tidak bisa ditemukan di negara-negara lain di dunia sehingga nilainya semakin berharga.

March 2008 - Indonesia. Healthy Coral head with soft corals, anemones, etc. near the Raja Ampat Islands in West Papua Province.
Corals in Indonesia March 2008 - Indonesia. Healthy Coral head with soft corals, anemones, etc. near the Raja Ampat Islands in West Papua Province. © Jeff Yonover

Ancaman tehadap Keanekaragaman Hayati

Sayangnya, 72 persen dari tutupan hutan asli Indonesia telah hilang. Dengan laju deforestasi yang begitu tinggi, Indonesia menjadi penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Laju deforestasi yang pesat ini juga mengancam keberadaan spesies-spesies asli negara ini. Indonesia memiliki 114 spesies burung yang sangat terancam punah, yang merupakan jumlah terbesar di dunia. Selain itu, hampir sepertiga jumlah mamalia asli Indonesia terancam punah, yang lagi-lagi menempatkan Indonesia di urutan pertama dunia. Kondisi laut Indonesia juga tidak kalah mengkhawatirkan. Sebagai contoh, sekitar tiga puluh persen terumbu karang Indonesia telah rusak akibat pemanasan global, sanitasi yang buruk, dan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan.

Menurut laporan pemerintah Indonesia untuk Konvensi Keanekaragaman Hayati tahun 2004, kondisi keanekaragaman hayati Indonesia sedang mengalami krisis. Sekarang, setelah hampir 14 tahun berlalu, kondisi tersebut semakin berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Akan tetapi, selalu ada peluang dalam setiap krisis.

Ekonomi Berbasis Pengetahuan dan Peluang Hijau

Pada awal 1950-an, Indonesia dengan sumber daya alamnya yang berlimpah berada pada tingkat pertumbuhan ekonomi awal yang setara dengan Korea Selatan yang miskin sumber daya alam. Namun, sejak itu Korea Selatan mampu berkembang menjadi negara industri dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang maju pesat, jauh meninggalkan Indonesia.

Sama halnya dengan Korea Selatan bertahun-tahun lalu, Indonesia bisa memprioritaskan ekonomi berbasis pengetahuan yang mampu menunjang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Strategi yang kita pilih haruslah mampu menekan ketidaksetaraan penghasilan dan melindungi keanekaragaman hayati kita yang unik. Kedua faktor ini merupakan peluang terbaik bagi masa depan kita. Bahkan bisa membantu kita membuat lompatan ke ekonomi pengetahuan abad ke-21 dan seterusnya melalui pemeliharaan modal alam Indonesia serta investasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis keanekaragaman hayati.

sorting his nets after fishing in Papela Bay. Fisherman like Andi have learned the best practices for fishing sustainably with TNC's support.
Fisherman Andi Domun sorting his nets after fishing in Papela Bay. Fisherman like Andi have learned the best practices for fishing sustainably with TNC's support. © Kevin Arnold

Untuk mencapai hal ini, diperlukan perubahan pola pikir pemikiran kita sebagai individu, sebagai masyarakat, sebagai pemerintah, dan sebagai usaha. Dibutuhkan suatu revolusi mental yang mengubah konsep pembangunan lewat eksploitasi sumber daya alam menjadi pembangunan lewat penciptaan nilai sumber daya alam. Hal ini harus dilakukan melalui investasi di bidang pendidikan serta penelitian dan pengembangan. Di sisi lain, kondisi ini juga memberikan peluang besar bagi pelaku usaha di Indonesia untuk mulai mengadopsi strategi ‘lautan biru’ berkelanjutan berbasis pengetahuan yang menciptakan keunggulan kompetitif jangka panjang di tingkat lokal maupun global. Jika Indonesia gagal memanfaatkan inisiatif tersebut, masa depannya akan semakin suram dan lagi-lagi tertinggal dari negara lain.

Setelah Amerika Serikat mundur dari Kesepakatan Iklim Paris belum lama ini, banyak yang berpendapat bahwa Tiongkok mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai pemimpin inisiatif lingkungan hidup global. Sementara, negara tetangga kita, Singapura, secara strategis menanamkan investasi besar-besaran untuk menjadi pemimpin global di bidang biomedis. Di Afrika, di mana negara-negara kekuatan ekonomi baru mulai bermunculan, Rwanda telah melangkah maju menuju negara ekonomi berbasis pengetahuan yang menjadikan ketidaksetaraan sebagai pokok kebijakan nasionalnya walaupun baru saja mengalami konflik sipil tragis. Laporan ekstensif yang diterbitkan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) membahas rinci keunggulan kompetitif yang membuat Amerika Latin dan Karibia berpeluang menjadi negara adidaya keanekaragaman hayati melalui penerapan pengelolaan berkelanjutan keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan dalam rencana pembangunannya.

Apabila negara-negara tersebut dan negara-negara lain mampu merubah arah pembangunan dengan demikian strategisnya, mengapa Indonesia tidak? Sebagaimana dikatakan oleh Emil Salim, “Masa pembangunan dengan pola kapitalisme sudah berlalu, dan sekarang harus diubah ke pembangunan ekonomi dengan nilai sosial yang memperhatikan kepentingan lingkungan hidup.”

Untuk tujuan ini, diperlukan suatu perubahan visi yang meliputi kepemimpinan dalam hal pembangunan berbasis keanekaragaman hayati. Kita harus bangga akan warisan keanekaragaman hayati kita dan mengambil peran kepemimpinan yang bertanggung jawab untuk menjadikan warisan tersebut bernilai demi keberlanjutan dan kesejahteraan kita serta generasi mendatang.