Reduced Impact Logging-Carbon, Memanen Tanpa Merusak
oleh Delon Marthinus

Sektor kehutanan menjadi prioritas untuk memenuhi target pengurangan emisi nasional. Sektor ini diharapkan menyumbang paling tidak 80% dari pengurangan emisi nasional pada tahun 2020. Untuk mengurangi emisi dari degradasi hutan di sektor kehutanan, aktivitas pengelolaan hutan secara berkelanjutan termasuk di dalamnya RIL (Reduced Impact Logging), menjadi sangat penting. 

RIL merupakan praktek dan teknik pemanenan hutan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, misalnya mencegah erosi tanah, menjaga sungai tetap bersih, mengurangi limbah kayu tebangan, mencegah kecelakaan kerja, dan lain-lain. Sayangnya hingga saat ini, belum ada satu studi atau pendekatan yang membuktikan kemampuan RIL dalam pengurangan emisi dari aktivitas penebangan pohon. Karena itu munculah konsep RIL-C yang dikembangkan oleh The Nature Conservancy (TNC) pada tahun 2009. RIL-C atau RIL Carbon merupakan pengembangan dari RIL untuk memaksimalkan penyimpanan karbon hutan dalam mitigasi perubahan iklim. 

TNC telah melakukan uji coba RIL-C di 3 IUPHHK-HA (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam) di Kalimantan Timur, yaitu; PT INHUTANI I Meraang dan PT Karya Lestari di Kabupaten Berau, dan PT Gunung Gajah Abadi di Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan yang dilakukan meliputi inventarisasi tegakan sebelum penebangan, menghindari menebang pohon yang tidak bisa dipanen, mengoptimalkan pemotongan batang (bucking), penggunaan mesin pancang untuk menarik batang kayu dengan menggunakan rantai baja sehingga mengurangi kerusakan vegetasi, konstruksi jalan pengangkutan (hauling) yang efektif, dan terakhir melakukan pengukuran dampak emisi. Berdasarkan praktek RIL yang telah dicobakan di wilayah seluas 100 hektar di blok penebangan IUPHHKA-HA di Kalimantan Timur, diketahui bahwa praktek ini dapat mengurangi emisi hingga sekitar 40%, dibanding BAU (Business as usual).

Sayangnya hingga saat ini belum banyak IUPHHK-HA yang mengadopsi pendekatan RIL/RIL-C. Kebanyakan IUPHHK-HA yang menerapkan pendekatan tersebut adalah yang sudah mapan. IUPHHK-HA yang masih baru, masih sulit menerapkannya karena keterbatasan sumberdaya manusia, sistem manajemen yang belum menunjang, terlalu berorientasi pada keuntungan yang cepat, dan tiadanya insentif. Diperlukan uji coba yang lebih luas dengan lokasi yang lebih tersebar, untuk meyakinkan bahwa pendekatan RIL/RIL-C layak direplikasi. Percontohan mekanisme pemberian insentif bagi IUPHHK-HA yang menerapkan RIL-C, patut untuk dilakukan.

 

Comments :