Pendekatan SIGAP untuk Mengelola Sampah di Wakatobi
oleh Tim Program Kelautan dan Pesisir Indonesia

Sejak 10 tahun terakhir nama Wakatobi sudah sering terdengar karena keindahan alam pantai dan alam bawah lautnya serta keunikan budaya lokalnya. Wakatobi kini menjadi salah satu tujuan wisata favorit masyarakat Indonesia dan wisatawan mancanegara. Berdasarkan data tahun 2015, tercatat hampir 100.000 wisatawan berkunjung ke Wakatobi.

Wakatobi terletak di jantung segitiga terumbu karang dunia (coral triangle) yang merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang mendiami wilayah hampir seluas 1,4 juta hektar di Sulawesi Tenggara. Pulau-pulau kecilnya terdiri dari 4 (empat) pulau yakni Pulau Wangi-Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko. Penduduk Wakatobi mencapai 100.000 orang. Sebagian besar bermata pencaharian nelayan tradisional.

Wakatobi Sampah_MG

Aktivitas pariwisata, terutama sampah, dapat berdampak negatif pada kondisi lingkungan hidup. (c) Mark Godfrey/ TNC

Perkembangan sektor pariwisata di Wakatobi berdampak signifikan terhadap perkembangan ekonomi makro Wakatobi yang selama ini hanya mengandalkan perikanan tangkap dan budidaya. Perkembangan ini juga mempengaruhi peningkatan daya beli masyarakat. Sayangnya peningkatan konsumsi juga diikuti oleh peningkatan volume sampah yang berasal dari buangan rumah tangga dan dari pengunjung Wakatobi. Sampah-sampah ini tidak terkelola dengan baik sehingga mengganggu keindahan alam Wakatobi. Jika tidak dikelola, sampah akan menyebabkan turunnya minat wisatawan dan mengancam kesehatan masyarakat.

Wakatobi coral_DRW

Pengolahan sampah oleh masyarakat dan wisatawan menjadi kunci keberlanjutan wisata di Wakatobi. (c) Daniel & Robbie Wisdom

The Nature Conservancy Indonesia Coasts and Oceans Program (TNC-ICOP) telah bekerja di Wakatobi semenjak 10 tahun terakhir membantu pemerintah daerah serta Balai Taman Nasional Wakatobi mewujudkan Wakatobi sebagai kawasan yang dikelola secara efektif. Salah satu program TNC adalah mendampingi masyarakat Wakatobi terutama di Pulau Kaledupa mengelola sampah secara mandiri.

Daur ulang sampah dapat menjadi sumber pendapatan sampingan. Pendampingan dilakukan melalui beberapa tahapan antara lain penyadartahuan kepada pemerintah, wisatawan dan masyarakat lokal akan pentingnya pengelolaan sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan, peningkatan kapasitas masyarakat lokal dalam mengelola sampah, dan pengembangan Community Waste Management System yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Jangan sampai sampah mengganggu masa depan Wakatobi.

Comments :