Memperkenalkan Kode Etik Wisata Terumbu Karang
oleh Glaudy Perdanahardja

Diver code_JY_730

Indonesia merupakan surga penyelaman dunia. Tetapi pengelolaan yang kurang berkelanjutan mengancam kelangsungan surga bawah air ini. (c) Jeff Yonover

Statistik terakhir kunjungan wisata Indonesia mengisyaratkan bahwa Bali masih menjadi primadona. Setidaknya 40% atau hampir setengah kunjungan wisata Indonesia berada di wilayah Bali. Dengan statistik di atas, setidaknya 10 juta orang akan terkonsentrasi di Pulau Bali sampai 4 tahun mendatang. Bali menjadi salah satu daerah wisata di Indonesia yang wajib dikunjungi bagi mereka yang penggemar diving atau menyelam yang mengandalkan keindahan terumbu karang. Jumlah operator selam di Bali pada tahun 2010 sekitar 200 operator. Dalam kurun waktu 5 tahun, jumlah operator telah meningkat 2 kali lipat. Bali memang menawarkan banyak tempat penyelaman indah yang sudah terkenal, termasuk salah satunya di kawasan Bali Timur. Untuk wilayah Bali Timur saja, satu lokasi penyelaman didatangi setidaknya 200 penyelam per hari. Tidak mengherankan apabila menyelam di kebanyakan tempat di Bali Timur lebih mirip pasar malam, ramai dan hiruk pikuk.  

Apabila keadaan seperti ini dibiarkan tanpa ada perlakuan di dalamnya, tren pariwisata selam yang kini mungkin melewati puncaknya akan mengalami penurunan secara bertahap. Kemungkinan terburuk, akan menghilang dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Oleh karena itu, perlu diperkenalkan sebuah kode etik pariwisata yang tidak hanya ditujukan untuk menyelamatkan terumbu karang tetapi juga pada penyelamnya.
Secara umum, dampak dari kegiatan pariwisata terumbu karang mencakup kerusakan fisik (misalnya kerusakan karang akibat aktivitas penyelaman dan jangkar kapal), serta yang tidak langsung seperti pembangunan dan pengoperasian resort, dan pengembangan infrastruktur. Temuan ini pun sangat tipikal. Temuan yang terjadi di Kepulauan Karibia misalnya juga terjadi di belahan lain di dunia.

Diver code 2_JY_730

Menikmati keindahan bawah laut Indonesia. (c) Jeff Yonover

Kerusakan paling sering yang ditimbulkan oleh para penyelam adalah mematahkan batang karang atau menyebabkan luka pada karang besar. Kebanyakan penyelam menyebabkan kerusakan yang kecil, hanya sebagian kecil saja yang menyebabkan kerusakan yang besar dan luas tetapi degradasi karang dan perubahan struktur komunitas karang terjadi ketika pemanfaatannya melebihi daya tampung yang diperbolehkan. Pembatasan jumlah pengunjung merupakan salah satu pendekatan yang dapat ditempuh. Menurut standar aturan praktis yang diikuti di dunia, jumlah maksimum yang diperbolehkan untuk setiap situs penyelaman setidaknya antara 5.000 sampai 6.000 penyelam per tahun.

Dampak ikutan lain dari wisata selam adalah kerusakan fisik akibat jangkar kapal dan pendaratan perahu. Kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat parah, tergantung kepada besarnya perahu dan jenis komunitas karang. Pemulihan karang akibat pendaratan perahu akan memakan waktu yang sangat lama. Limbah yang berasal dari fasilitas wisata seperti resort dan hotel boat, juga dapat mengancam kelestarian terumbu karang. Beberapa temuan bahkan menegaskan bahwa sebagian besar limbah yang di buang di perairan pantai tanpa pengelolaan yang memadai. Pencemaran badan air akan meningkatkan nutrisi yang mendorong pertumbuhan ganggang dan mengganggu pertumbuhan karang. Pengelolaan wisata secara berkelanjutan menjadi keharusan. Kini saatnya bersama-sama membenahi sektor wisata selam di Bali atau kita akan kehilangan peluang besar di depan mata.

 

Comments :