Memastikan Produk Laut Dapat Ditelusuri Sampai Sumbernya
oleh Koen Setyawan


Hari masih pagi saat petugas keamanan membuka gerbang pabrik Indotropic. Jalanan nampak lengang. Sesekali beberapa kendaraan melintas membelah pagi. Satu demi satu pekerja pabrik memasuki gerbang dan segera berganti pakaian dengan baju putih lengan panjang, sepatu karet, masker, dan tutup kepala. Tak lama kemudian truk-truk bermuatan barang bergantian masuk dan berhenti di depan pintu depan pabrik. Air menetes dari bagian bawah bak berbau asin dan segar, menandakan muatannya berasal dari laut. Para pekerja segera membongkar muatan, memilah, dan memasukkannya ke dalam pabrik. Hari ini muatan didominasi oleh gurita. Makluk-makluk berlendir itu ditimbang dan dipilah berdasarkan ukurannya.

“Kami mendapat limpahan dari berkurangnya pasokan gurita dari Maroko,” ujar Edy Handoko, Vice Director Indotropic, perusahaan pengolahan dan eksportir hasil laut di kantornya di Luwuk, Sulawesi Tengah. Pasar Amerika Serikat yang menjadi tujuan utama ekspor Indotropic didominasi cumi-cumi lengan pendek dari perairan Maroko, Afrika. Saat produksi turun, Indonesia mendapat celah memasukkan cumi-cumi lengan panjang sebagai pengganti gurita Maroko,” lanjutnya. Lelaki asal Semarang ini telah malang melintang di dunia ekspor ikan dan biota laut. Dalam sebulan, CV Indotropic dapat mengekspor 70 ton gurita dan ikan. Ekspor dilakukan melalui kantor pemasaran di Surabaya. Tetapi beberapa ekspor langsung dilakukan dari Luwuk.

“Pasarnya masih cukup menjanjikan. Pasokan gurita melimpah. Bahkan untuk beberapa saat sangat berlebih sehingga kami harus memikirkan cara supaya harga tidak jatuh. Namun, kami tak mungkin membatasi ikan atau gurita yang masuk karena harus menjaga hubungan baik dengan para pemasok. Kami punya banyak pemasok di Luwuk,” ujarnya.

fish loading_cpm_730

Pekerja menurunkan ikan dari truk pemasok. (c) Peggy Mariska/TNC

Di dalam pabrik, ikan-ikan disortir dan dikelompokkan berdasarkan ukuran dan jenisnya. Ikan kemudian dikuliti sisiknya dan dipotong menjadi bentuk fillet. Tahap selanjutnya adalah pencucian. Bagian kepala, insang, jerohan dan ekor dibuang. Banyak pengusaha makanan lokal yang membeli potongan-potongan ini. Sisanya akan diasin. Ikan juga diambil duri dan tulangnya dan segera ditimbang. Tapi beberapa ikan harus memasuki tahap smoke di chilling room selama 20 menit. Negara-negara tujuan ekspor tertentu mengajukan permintaan khusus untuk menambah CO agar tampilannya lebih segar. Penambahan zat ini memang membuat daging ikan kelihatan memerah dan segar. Tahap selanjutnya ikan di vacuum dan dimasukkan ke ruang pendingin selama 8 jam. Selepas dari ruang pendingin, ikan siap dikemas ke negara tujuan. Pada kemasan telah tertera informasi tentang jenis ikan dan asal ikan.

Indotropic adalah salah satu mitra Indonesia Fisheries Conservation Program dari The Nature Conservancy Indonesia Program (TNC). Bersama TNC, Indotropic menerapkan Smart Weighing Measuring System atau sistem pengukuran berat cerdik yang dirancang khusus untuk produk perikanan. Sistem ini dikembangkan bekerja sama dengan sebuah perusahaan teknologi informasi, PT Insite Solutions. SWMS secara otomatis mencatat jenis, panjang, serta berat ikan dan memastikan informasi yang dapat ditelusuri dari mulai bahan baku diterima pabrik hingga diekspor. Sistem ini terdiri atas komputer layar sentuh, pencetak barcode dan pemindai barcode, timbangan digital, dan papan pengukur. Sistem penimbang cerdik memungkinkan perusahaan pemroses ikan untuk mengumpulkan dan membagi data tentang distribusi jenis dan ukuran ikan tangkapan secara terkontrol.

Sebelum menggunakan SWMS, Indotropic menggunakan cara manual untuk memilah-milah ikan dan biota laut berdasarkan pemasoknya. “Kami tinggal teriak aja ke rekan pencatat, tanggal masuk, ukuran ikan dan kode pemasoknya,” ujar Abdillah Warji, Kepala Bagian produksi CV Indotropic. “Dengan SWMS, setiap ikan punya kode tersendiri yang akan dengan mudah menunjukkan asal dari pemasok yang mana. Kita tinggal scan saja barcode-nya. Sistemnya belum sepenuhnya berjalan karena baru ada beberapa bagian yang sudah menerapkannya. Baru di bagian sizing (pengukuran) dan packing (pengepakan). Tapi sistem ini membuat kerja kami menjadi lebih efisien”, lanjut lelaki yang sering dipanggil Mas Enceng ini. Keuntungan lainnya, staf pabrik mulai belajar mengenal spesies ikan. Kalau sebelumnya mereka hanya mengenali ikan sampai tingkatan genus, sekarang sudah sampai tingkat spesies. TNC dan mitra membekali staf dengan pengenalan taksonomi ikan agar data yang tercantum semakin valid.

fish cleaning_ew_730

Pekerja membersihkan ikan yang akan diekspor. (c) Ed Wray

SWMS memang belum secara langsung mempengaruhi harga ikan. Tapi Eddy Handoko berharap, kelak sistem ini dapat diadopsi di tingkat internasional sehingga memastikan ikan yang diekspor dapat dipastikan diterima di negara tujuan. Saat ini masing-masing negara menerapkan kebijakan yang berbeda. Amerika Serikat dikenal paling ketat berkaitan dengan kualitas komoditas ekspor yang masuk ke negaranya. Pemerintah Amerika Serikat akan memeriksa kualitas ikan pasokan dengan meneliti sampel yang datang. Tak jarang jika sampel yang diambil terkontaminasi, seluruh ikan ekspor tak bisa masuk ke negara tersebut dan harus dikembalikan ke negara pengirim. Pihak pembeli pun tak bisa berbuat banyak. “Yang paling penting bagi eksportir seperti kami adalah kepastian bahwa kualitas kami terjaga dan barang dapat diterima di negera tujuan. Jadi tak perlu lagi memeriksa sampel yang ekspor,” imbuhnya.

Comments :