Memanen Madu, Melestarikan Hutan
oleh Taufik Hidayat


Dari sekian banyak produk non-kayu, madu hutan merupakan salah satu komoditas unggulan masyarakat yang hidup dan tinggal di dalam kawasan dan sekitar hutan di Kabupaten Berau. Madu hutan yang dihasilkan oleh masyarakat dayak di Kabupaten Berau pada umumnya dihasilkan oleh lebah hutan (Apis dorsata). Selain pada dahan dan cabang pohon berkulit licin yang tinggi, sarang lebah madu juga dapat ditemukan menempel pada ceruk di tebing bebatuan. Di Berau, masyarakat menyebut lebah ini Unyai. Oleh masyarakat lokal, madu dikonsumsi sendiri atau dijual. Madu hutan sangat dikenal sebagai sumber energi dan pengganti gula.

Pohon-pohon sarang ini biasanya sangat tinggi, mencapai 40 sampai 60 meter. Jenis-jenis pohon sarang antara lain menggeris (Koompassia malaccensis), kempas (Koompasia excelsa), ara (Ficus sp), pulai (Alstonia scholaris), bangkirai (Shorea laevis), benuang (Octomeles duabanga), jelemu (Canarium decumanum), kapur (Dipterocarpus sp), tempudo (Dipterocarpus sp), bengelem, dan kela kebuk. Rasa dan warna madu hutan sangat dipengaruhi oleh jenis tanaman yang sedang berbunga.

Masyarakat di Hulu Sungai Sungai Kelay yang didominasi Dayak Punan pada umumnya melakukan panen madu dengan cara mengambil habis semua sarang. Alasannya larva lebah dapat dimakan. Sedangkan di Hulu Sungai Lesan yang didominasi masyarakat Melayu Berau, Dayak Lebo dan Dayak Gaai memanen dengan hanya mengambil bagian kepala sarang yang berisi madu saja. Tujuannya untuk menjaga kelangsungan hidup koloni lebah. Jika masih ada sisa sarang, lebah tidak membutuhkan waktu lama untuk membangun kembali sarangnya. Hal ini akan mempersingkat jarak panen berikutnya.

Panen Madu_TaufikH_730

Hutan harus lestari agar madu tetap bisa dipanen. (c) Taufik Hidayat

Pada umumnya madu yang ada di dalam sarang dikeluarkan dengan cara diperas. Sedangkan di daerah hilir, masyarakat meniris dan menusuk bagian sarang sehingga madu akan menetes pada wadah/tempat penirisan yang telah disiapkan. Teknik penirisan ini juga dilakukan kelompok pemburu madu di Kampung Teluk Sumbang yang berasal dari masyarakat Dayak Basap. Mereka yakin madu yang ditiriskan akan bertahan lebih lama dibandingkan madu yang diperas.

Pemanenan madu hutan umumnya dilakukan pada malam hari untuk menghindari resiko disengat lebah. Setelah sampai di pohon utama, dilakukan pengasapan dan bunga api agar lebah mengejar cahaya yang terjatuh. Panen dilakukan secara berkelompok dan semua pihak yang ikut dalam proses panen madu akan mendapat bagian.

Pemanenan biasanya didahului dengan ritual/tradisi kepercayaan. Namun, tradisi tersebut sudah mulai tidak dipraktekkan lagi, khususnya bagi masyarakat di Kecamatan Kelay. Masyarakat dari Kampung Lesan Dayak (Dayak Gaai) menggunakan lagu saat proses pemanenan dan setelah selesai memanen dalam ritual yang disebut Laweh Nyai. Masyarakat Dayak Lebo memanen madu dengan menggunakan ritual bersiul. Sedangkan bagi masyarakat Dayak Basap di Kampung Teluk Sumbang, lantunan yang biasa digunakan pada saat pemanenan adalah Amadi Wai Simpu Wanyi (proses menurunkan lebah).

Pohon-pohon sarang lebah madu hutan dimiliki secara pribadi atau keluarga. Uniknya, kepemilikan didasarkan kepada siapa yang pertama kali melihat, menemukan dan merawatnya. Sebagai bukti klaim kepemilikan, penemu akan memberi tanda berupa pembersihan di sekitar pohon pusaka berbentuk piringan melingkar, membuang pohon-pohon perambat dan memberi tanda di batang pohon dengan bacokan parang atau kayu kecil yang ditancapkan di dekat batang. Meskipun terlihat sederhana, metode kepemilikan sarang ini dihormati oleh anggota masyarakat lainnya. Survei potensi madu hutan yang dilakukan di 17 kampung, di 4 Kecamatan (Kelay, Segah, Gunung Tabur dan Biduk-Biduk), menunjukkan bahwa produksi madu hutan dapat mencapai 19.800 liter per tahun. Tak mengherankan jika pepohonan sarang sangat berharga.

Hutan dan pepohonan sarang harus tetap dijaga agar madu tetap bisa dipanen dan lebah tak berpaling ke tempat lain. Hutan harus lestari agar madu tetap bisa dipanen.

Comments :