Beternak Sapi di Kaki Pegunungan Karst Sangkulirang-Mangkalihat
oleh Tim Program Kehutanan Indonesia

Sebagai pengelola hutan desa seluas 8.245 hektar, warga kampung Merabu yang berada di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, berharap dapat terus meningkatkan kesejahteraan mereka. Selama ini mata pencaharian 220 jiwa penduduk Merabu masih sangat bergantung pada alam, mulai dari madu alam, kayu gaharu, hingga sarang burung walet. Namun sayangnya, hasil alam tersebut produksinya terus menurun.

Masyarakat kampung Merabu yang selama beberapa tahun terakhir didampingi oleh TNC Indonesia pun mulai melirik potensi ekonomi lain yang dimiliki wilayah mereka. Saat ini mereka sudah merintis kegiatan ekowisata dan pertanian. Selain itu mereka juga sudah memulai kegiatan peternakan sapi.

Warga kampung memilih peternakan sapi karena usaha ini cukup menjanjikan dan berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap alam. Kegiatan ini memperoleh dukungan awal dari Dinas Peternakan Berau yang memberikan 40 ekor sapi. Kaki Pegunungan Karst Sangkulirang-Mangkalihat dengan sumber air jernih, rumput melimpah, dan area penggembalaan yang luas tampaknya cocok untuk usaha ini.

Area sapi_730

Areal penggembalaan seluas 20 hektar. (c) TNC

“Kami bercita-cita memelihara hingga 300 ekor sapi dalam tiga tahun,” ujar Franley Oley, Kepala Kampung Merabu dalam diskusi Rencana Integrasi Peternakan dan Pengelolaan Hutan Desa di Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur. “saat ini kami sudah menyiapkan lahan seluas 25 hektar,” lanjut Franly. Lahan tersebut diperkirakan cukup untuk penggemukan sebanyak 200 ekor dan pengembangbiakkan sebanyak 100 ekor, dimana enam hektar diantaranya dialokasikan untuk pakan.
Warga juga membangun kandang penggemukan seluas 6 x 20 meter persegi. Untuk keamanan, keseluruhan lahan dipagar dengan kayu ulin.

Beternak sapi diprediksi cukup menguntungkan karena harga jualnya yang tinggi dan seluruh produknya (bukan proses), mulai dari daging, kulit bahkan kotorannya memiliki nilai ekonomis. Peternakan sapi di Merabu akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). Dengan adanya peternakan sapi diharapkan perekonomian warga lebih meningkat.

Sapi Merabu_730

Sapi bantuan Dinas Peternakan Berau. (c) TNC

Peternakan ini juga sekaligus untuk memenuhi target Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk menghasilkan sebanyak dua juta ekor sapi pada tahun 2018. Kalimantan Timur membutuhkan sapi hingga 60 ribu ekor per tahun, tapi hingga kini hanya dapat dipenuhi 45 ribu. Sisanya harus didatangkan dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah.

Konsep yang dijalankan Kampung Merabu disebut sistem agrosilvopastoral yaitu sebuah sistem yang menggabungkan pertanian, hutan, dan peternakan dalam satu kawasan. Konsep pemberdayaan masyarakat ini memberikan manfaat ekonomi sekaligus tetap menjaga kelestarian hutan. “Kampung Merabu ini akan menjadi model (agrosilvopastoral). Kami mendukung ide ini, karena sesuai dengan konsep perhutanan sosial, yang merupakan program prioritas kami saat ini,” ujar Wahyu Widhi Heranata, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur. Target kawasan perhutanan sosial di Provinsi Kalimantan Timur mencapai wilayah seluas 600.000 hektar. Dinas Kehutanan akan membantu menyelesaikan legalitas penggunaan lahan, terutama bila status lahan yang dialokasikan untuk peternakan bersinggungan dengan wilayah hak pengusahaan hutan.

 

Comments :