Kami bekerja dengan Anda untuk menciptakan efek positif di lebih dari 30 negara, termasuk di Tanah Air kita.

Yang Terbaru

Berita lainnya »

Masyarakat Kofiau-Raja Ampat Papua Barat Kukuhkan Komitmen terhadap Konservasi Laut Melalui Deklarasi Adat

Kofiau – Dalam rangka menyambut Festival dan Travel Mart Raja Ampat yang diselenggarakan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata pada tanggal 20-23 Oktober 2011, masyarakat adat Kofiau di Kepulauan Raja Ampat mengukuhkan komitmen untuk melestarikan sumberdaya alam laut mereka melalui Deklarasi Adat Zonasi Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kofiau dan Boo.Acara deklarasi adat yang bertempat di Pulau Gebe Kecil Kepulauan Kofiau  hari ini didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Raja Ampat dan lembaga konservasi nirlaba dunia The Nature Conservancy (TNC).
Kepala DKP Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Manuel P. Urbinas, SPi, MSi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa masyarakat memiliki sistem nilai budaya yang mengatur dan melindungi hubungan dengan alam sekitarnya dari ancaman kepunahan.

“Dengan semangat kebaharian, pemerintah bertekad untuk mendukung kebijaksanaan pengelolaan yang berbasis ekosistem dalam kerangka kebijakan pembangunan Kabupaten Bahari Raja Ampat.Model pilihan pembangunan berbasis pada ekosistem bukan saja menjaga alam Raja Ampat, tetapi sudah memperlihatkan adanya peningkatan pada jumlah pendapatan asli daerah yang sangat berarti.”

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah menetapkan Taman Pulau Kecil Raja Ampat yang terdiri dari enam KKPD pada tahun 2007, salah satunya ialah KKPD Kofiau dan Boo dengan luas 170.000 hektar.Raja Ampat merupakan daerah yang unik; laut di sekitarnya merupakan jantung bagi kawasan Segitiga Terumbu Karang yang diakui dunia sebagai pusat keanekaragaman hayati terumbu karang.Namun, sedikit yang sadar bahwa di balik keindahan surga bawah laut tersebut terdapat kearifan lokal masyarakat.

Upacara adat zonasi KKPD Kofiau ditandai dengan penyerahan surat dukungan masyarakat Kofiau kepada pemerintah kabupaten Raja Ampat, yang diwakili oleh Kepala DKP. Tokoh adat Elias Ambrauw menyerahkan dokumen yang berisi tanda tangan para pemilik hak ulayat atas tempat yang dijadikan zona larang tangkap.

Ketua adat kemudian memberikan mandat pengelolaan KKPD kepada Pemerintah Kabupaten atas nama masyarakat Kofiau. KKPD Kofiau memiliki empat jenis zona, yaitu zona ketahanan pangan dan pariwisata (sama dengan zona larang tangkap); zona sasi dan pemanfaatan tradisional masyarakat; zona perikanan berkelanjutan dan budidaya; serta zona pemanfaatan lain.

Upacara ini merupakan simbol komitmen masyarakat Kofiau untuk melindungi perairan Kofiau yang berdasarkan hasil kajian ekologi TNC pada tahun 2002 menunjukkan bahwa tidak kurang dari 292 spesies terumbu karang (dari jumlah total 537 spesies yang ditemukan di seluruh perairan Raja Ampat) dan 529 jenis ikan karang (tertinggi di Raja Ampat) mengelilingi gugus pulau-pulau di kawasan ini.

Manajer TNC untuk Portofolio Kepala Burung Papua, Lukas Rumetna, menandaskan bahwa TNC sangat menyambut baik upacara adat ini.“Upacara ini merupakan bukti bahwa masyarakat Kofiau mengakui pentingnya upaya perlindungan sumberdaya laut mereka yang merupakan sumber penghidupan dan kehidupan bagi sebagian besar masyarakat setempat.”

“Setelah sebuah proses panjang selama empat  tahun, kami sangat bahagia bahwa masyarakat Kofiau telah menyepakati zonasi KKPD ini, dengan memadukan kearifan lokal dan konservasi modern,” lanjut Lukas Rumetna. TNC telah  melakukan berbagai pemantauan kondisi terumbu karang, daerah pemijahan ikan, pola-pola pemanfaatan sumberdaya alam laut sejak tahun 2003. Hasil dari pemantauan ini digabungkan dengan kearifan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam seperti sasi sehingga melahirkan zonasi pemanfaatan laut yang telah disepakati secara bersama antara masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat.

Melalui deklarasi adat ini, masyarakat bersama dengan DKP Kabupaten Raja Ampat akan menguatkan kemitraan ini untuk menjaga  KKPD Kofiau dan Boo dari ancaman kegiatan tangkap-lebih, penangkapan ikan yang merusak dengan menggunakan bahan peledak dan bahan kimia yang membahayakan, serta penangkapan biota laut yang dilindungi.

***

The Nature Conservancy adalah organisasi konservasi yang bekerja di seluruh dunia untuk melindungi daratan dan perairan yang secara ekologis penting bagi alam dan masyarakat.TNC bermitra dengan pemerintah, masyarakat dan pihak swasta membantu membangun mekanisme pengelolaan kolaborasi yang menghargai tradisi dan nilai-nilai setempat, untuk kawasan konservasi laut daerah bagi kesejahteraan masyarakat. Untuk informasi lebih lanjut, dapat mengunjungi www.nature.or.id.

CATATAN BAGI REDAKTUR:

  • Penentuan zonasi di KKPD Kofiau dan Boo mengacu pada Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  • Kawasan konservasi perairan adalah kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. KKPD ialah kawasan konservasi perairan yang ditetapkan dan dikelola oleh Pemerintah Daerah.
  • Zonasi dalam kawasan konservasi membantu masyarakat dan pemerintah dalam melakukan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut sesuai peruntukannya. Secara umum zonasi terdiri dari daerah perlindungan dan daerah pemanfaatan yang pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat. Untuk memastikan ketersediaan jumlah ikan dalam kawasan konservasi perairan, perlu ditentukan sebuah zona larang tangkap yang akan berfungsi sebagai bank ikan yang lestari.
  • Sasi adalah sebuah bentuk kearifan lokal masyarakat Raja Ampat untuk mengelola sumberdaya alam mereka secara berkesinambungan. Sasi merupakan penutupan sementara atas segala kegiatan ekstraktif di suatu wilayah tertentu yang disepakati bersama, dan pemanfaatan sumberdaya yang ada di dalam wilayah tersebut ditentukan bersama.

—000—



Related Posts

Comments Closed