Kearifan Lokal untuk Pengelolaan Sumber Daya Perairan di Rote Ndao

Hoholok_GR

Hoholok atau Papadak dapat dimanfaatkan sebagai perangkat untuk mengelola kawasan pesisir dan laut secara lestari. (c) Gondan Renosari/ TNC

Koordinasi, sinergi dan efektivitas aktivitas pengelolaan TNP Laut Sawu, membutuhkan keterpaduan pengelolaan secara kolaboratif. The Nature Conservancy (TNC) bekerjasama dengan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional – Kupang, Dewan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Forum Komunikasi Tokoh Adat Peduli Budaya Kabupaten Rote Ndao menginisiasi sebuah kearifan lokal yang dikenal dengan nama Papadak/Hoholok. Hoholok atau Papadak (Penjaga) merupakan sebuah istilah adat yang sebelumnya diterapkan oleh masyarakat Rote Ndao untuk menjaga segala hasil bumi yang ada di pulau terselatan Indonesia itu agar tidak dirusak atau dijamah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Berdasarkan kekuatan-kekuatan yang ada pada masyarakat inilah maka kami berinisiatif mengangkat Hoholok atau Papadak ini sebagai perangkat untuk mengelolah kawasan pesisir dan Laut secara lestari

TNC dan Forum Komunikasi Tokoh Adat Peduli Budaya Rote Ndao memilih tiga Nusak (wilayah adat) dari 19 Nusak yang ada dikabupaten ini sebagai wilayah contoh (pilot project). Upaya ini melibatkan para pihak antara lain pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, perwakilan profesi, tokoh pemuda, dan masyarakat agar masyarakat dan pemerintah desa dapat memahami ancaman terhadap wilayah pesisir dan mendapatkan model dan gagasan penting dari masyarakat untuk menerapkan papadak/hoholok.

Proses revitalisasi dimulai dengan pembentukan kelembagaan Papadak/Hoholok dan pemilihan wakil desa untuk menjadi Manoholo (Kelompok Monitoring dan Pengawasan) Papadak/Hoholok di wilayah perikanan tradisional masyarakat. Lembaga ini akan menyusun rumusan aturan larangan, sanksi, dan mekanisme penanganan pelanggaran secara adat. Proses selanjutnya adalah penentuan batas tanda alam atau pemberian titik (tanda) batas-batas lokasi yang dipapadak/dihoholok oleh pemerintah desa, kecamatan, tokoh adat, dan Manoholo yang ditandai dengan peletakan batu pertama atau tanda khusus di 6 desa di tiga nusak yakni Desa Sotimori dan Bolatena di Nusak Landu, Desa Nggodimeda dan Desa Siomeda di Nusak Termanu dan Desa Netenaen dan Oelua di Nusa Dengka.

Puncak kegiatan berupa ritual penetapan lokasi yang menandai berlakunya aturan Papadak/Hoholok di 3 nusak. Bupati Rote Ndao yang juga menjabat sebagai Maneleo Inahuk (Ketua Adat Utama) akan mendeklarasikan berlakunya penerapan Papadak/Hoholok sekaligus mengukuhkan para Manoholo yang akan bertugas mengawasi kawasan Papadak/Hoholok yang telah ditetapkan sehingga berfungsi sesuai aturan adat yang telah disepakati.

 

Comments :