Kajian Akustik Keanekaragaman Hayati

Wehea_CPM_

Kajian akustik keanekaragaman hayati dapat memberikan gambaran tentang kondisi keaneakaragaman hayati di berbagai jenis hutan. (c) Peggy Mariska/ TNC

Kini dampak pengelolaan hutan dapat diketahui dengan kajian akustik keanekaragaman hayati. Kajian ini dapat membedakan dampak pengelolaan seperti Hak Penguasaan Hutan (HPH), Hutan Tanaman Industri (HTI), hutan lindung dan perkebunan kelapa sawit terhadap keanekaragaman hayati. Metodenya dengan cara memasang alat perekam suara di tiap tipe pengelolaan hutan. Alat yang berbentuk persegi tersebut diikat di pohon dengan ketinggian maksimal dua meter. Tujuannya agar perekam bisa berfungsi sempurna tanpa dirusak binatang yang melaluinya. Jarak pemasangan antar perekam sekitar satu kilometer. Kendala muncul saat memasang perekam di hutan lindung yang sulit dijangkau.

Untuk hutan lindung, perekam yang dipasang lebih sedikit dari hutan lainnya. Di hutan lindung, maksimal dipasang 5 perekam. Sedangkan hutan dengan pengelolaan yang lain dibutuhkan 10 rekorder untuk satu hari pemasangan. Total ada 112 perekam yang dipasang di lima titik yaitu GGA (37 perekam), NAS (14 perekam), Hutan Lindung Wehea (20 perekam), TRH Suwaran (15 perekam) dan KL (26 perekam).

Setelah dua pekan hampir 100 persen perekam berfungsi optimal. Target spesies yang ingin diketahui antara lain mamalia, reptil, dan serangga. Selama dua pekan, perekam akan menyimpan suara binatang di lima lokasi pemasangan. Kelimanya adalah kawasan pengelolaan milik PT. Gunung Gajah Abadi (GGA) , PT. Karya Lestari (KL), Hutan Lindung Wehea, PT. Nusantara Argo Sejahtera (NAS), area Hutan Tanaman Industri PT. Tanjung Redeb Hutani (TRH) di Suwaran. Paling tidak sampai Bulan Desember 2016, hasil lengkap baru bisa diketahui. TNC menjadi pioner dalam kajian akuistik keanekaragaman hayati di Indonesia. Kajian serupa belum pernah dilakukan di tempat lain. Keunggulan kajian bioakuistik adalah hasilnya bukan estimasi lagi.

Metode akustik lebih efisien dan lebih murah dibandingkan metode jebakan kamera (camera trap). Kamera hanya bisa merekam gambar dari sudut pandang yang terbatas. Dengan bioakuistik, semua sudut bisa terdeteksi hingga radius 100 meter dari lokasi pemasangan alat perekam. Keanekaragaman hayati secara berurutan akan lebih banyak ditemukan di hutan alam, HPH, HTI dan perkebunan kelapa sawit. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemangku kepentingan terkait dengan status keanekaragaman hayati di wilayah kajian akuistik.

Comments :