Kami bekerja dengan Anda untuk menciptakan efek positif di lebih dari 30 negara, termasuk di Tanah Air kita.

Yang Terbaru

Berita lainnya »

Editorial

Lesan. © Aji Wihardandi.

Masyarakat dalam REDD+

The Jakarta Post, 4 Maret 2013

Indonesia diposisikan dengan baik untuk menerapkan strategi REDD+ yang berbasis masyarakat yang dapat memberikan manfaat ganda dari hutan negara yang lebih dari sekedar karbon. Ini termasuk fungsi hidrologis penting yang menjamin pasokan air, mengurangi banjir di hilir dan mengendalikan wrosi dan sedimentasi waduk, sekaligus melindungi keanekaragaman hayati yang kaya, milik negara. Sama pentingnya, inisiatif tersebut harus diarusutamakan kepada sector-sektor non-kehutanan untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang stabil, berkelanjutan dan adil bagi masyarakat pedesaan di Indonesia, menyediakan landasan untuk transisi ekonomi hijau dari tingkat desa ke tingkat nasional.

Mempromosikan perdagangan hasil hutan yang sah

The Jakarta Post, 2 Februari 2013

APEC telah membentuk Kelompok Ahli Pembalakan Liar dan Perdagangan yang Terkait (Experts Group on Illegal Logging and Associated Trade – EGILAT),  dan mengadakan pertemuannya yang ketiga di Jakarta, pada 29-30 Januari. Hal ini penting karena anggota ekonomi APEC bila digabungkan mencapai lebih dari 50 persen hutan dunia dan sekitar 80 persen dari perdagangan global produk hutan. Ada banyak kepentingan pada pertemuan ini karena banyaknya tindakan yang telah diambil dalam beberapa tahun terakhir untuk mengecualikan kayu ilegal dari rantai pasokan di kawasan. Dampak dari beberapa tindakan tersebut langsung dirasakan sekarang dan yang akan terjadi dalam beberapa tahun kedepan memiliki potensi untuk mengubah hal-hal mendasar, untuk perdagangan kayu global yang lebih baik.

Pasca-2015: Sebuah dunia baru yang paling dibutuhkan masyarakat

The Jakarta Post, September 11, 2012

Menyadari bahwa keserakahan telah memicu ekspansi ekonomi tidak ramah lingkungan dan berkelanjutan yang mendorong perubahan iklim yang berbahaya, sehingga menghabiskan sumber daya alam tempat banyak orang tak mampu menggantungkan penghidupan mereka, kita harus belajar untuk membangun kekuatan satu sama lain, dan mencoba untuk menempa kemitraan antara swasta, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan ekonomi hijau. Kesadaran baru warga perusahaan yang baik akan mendorong investasi moral, sedangkan birokrat khusus di jajaran dewan akan melihat bahwa kebijakan publik tidak berjalan sesuai dengan tujuan bersama. Hanya dengan kesadaran akan kepemilikan dan tanggungjawab yang setara maka keberlanjutan yang sesugguhnya dapat tercapai.

Kesiapan untuk pembiayaan iklim

The Jakarta Post, September 11, 2012

Ini merupakan ekstrak dari kertas kebijakan TNC yang berjudul, “Kesiapan Pembiayaan Iklim: Pembelajaran di Negara-negara Berkembang,” yang menganalisa pembelajaran dari lima negara berkembang, termasuk upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Makalah ini membantu baik negara maju maupun berkembang pada elemen yang akan membantu meningkatkan efisiensi dan transparansi mekanisme pendanaan iklim dan pelaksanaan konsekuensi dari tindakan – memastikan bahwa dana yang ada sampai ke orang yang tepat untuk mendorong perubahan positif.

Jalan Tengah dalam Pengelolaan Hutan

The Jakarta Post, 28 Mei, 2012

Pendapat ini diilhami dari sebuah penelitian terbaru dalam Conservation Letteri oleh Putz et. al. berjudul “Sustaining conservation values in selectively logged tropical forest: The attained and the attainable“. Gagasan utamanya adalah untuk memberikan “jalan tengah” yang menciptakan keseimbangan antara konservasi & kebutuhan pengurangan emisi karbon serta kebutuhan orang-orang yang mata pencahariannya bergantung pada penebangan berkesinambungan. Mengingat bahwa hutan-hutan tertentu bisa mempertahankan keanekaragaman hayati, karbon, dan kayu dalam jumlah besar, jalan tengah antara deforestasi dan perlindungan total ini layak untuk mendapatkan perhatian lebih dari organisasi konservasi, peneliti, pembuat kebijakan publik bahkan publik secara umum. Perbaikan pengelolaan hutan sekarang mungkin dilakukan jika ada peningkatan sinergi antara inisiatif untuk mempertahankan cadangan karbon hutan (REDD +), jaminan legalitas produk hutan, sertifikasi manajemen industri yang bertanggung jawab, dan menyerahkan kontrol atas hutan untuk memberdayakan masyarakat lokal.

 

‘Gotong Royong’: Kunci Kemitraan Konservasi di Indonesia
The Jakarta Post, 21 Februari 2012

Ini merupakan undangan untuk meninjau kembali konsep gotong royong, semangat untuk bahu membahu mencapai tujuan bersama demi Indonesia yang lebih baik dan lebih hijau. TNC, sebagai organisasi konservasi global, mengakui kearifan lokal dan resep kuno tapi mujarab seperti gotong royong sebagai solusi untuk permasalahan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan dalam situasi ekonomi negara berkembang seperti Indonesia. Kami juga menyadari peran pendukung untuk memicu pergeseran paradigma dari eksploitasi Sumber Daya Alam yang berlebihan ke cara hidup yang lebih berkelanjutan.

 


Satu Dekade Kerja Sama Regional dalam Memerangi Penebangan Liar
The Jakarta Post, November 11, 2011

Pada artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Jack Hurd dan Wahjudi Wardojo, menyoroti peringatan 10 tahun ‘Deklarasi Bali’ dalam Penegakan Hukum dan Tata Kelola Kehutanan (Forest Law Enforcement and Governance/FLEG) yang ditandatangani pada 2001. Inisiatif penting ini mampu menyatukan negara-negara penghasil, pengolah, dan pengguna kayu se Asia , untuk meletakkan landasan bagi upaya bersama dalam memerangi kegiatan-kegiatan ilegal di sektor kehutanan. Untuk pertama kalinya, para menteri kehutanan dari negara-negara ini secara terbuka mengakui masalah penebangan ilegal ini dan menyetujui serangkaian langkah untuk menghentikannya.


REDD +: Jalan Menuju Kemakmuran
18 Juli 2011

Bagaimana kita melestarikan hutan, dan pada saat yang sama terus mendukung berkembangnya industri vital seperti pengolah kayu dan kelapa sawit? Bagaimana kita akan menciptakan lapangan kerja dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia? Bagaimana Indonesia memenuhi target pertumbuhan dan emisi “7/26/41″ dari presiden? Di artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Greg Fishbein dan Wahjudi Wardojo, berpendapat bahwa REDD + tidak hanya berpotensi untuk mengakomodasi perkembangan industri penting tersebut, tetapi juga untuk mempercepat pertumbuhan kemakmuran yang langgeng di Indonesia. Namun, kita harus tetap memperhatikan tiga poin penting.

http://www.thejakartapost.com/news/2011/07/18/redd-a-pathway-prosperity.html

 

Transformasi Perdagangan Kayu di Asia
4 Mei 2011

Pada artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Jack Hurd dan Dicky Simorangkir, membahas kerjasama  regional antara Cina dan Indonesia – dua negara industri perdagangan kayu  terbesar di dunia – untuk mencegah pembalakan liar demi meningkatkan pengelolaan hutan yang berkesinambungan. Selama satu dekade terakhir, Indonesia telah berupaya secara serius untuk menghapus reputasinya sebagai surga bagi penebangan liar, termasuk mengembamgkan sistem jaminan legalitas kayu yang kredibel dan penandatanganan Perjanjian Kemitraan Sukarela (Voluntary Partnership Agreement/VAP) dengan Uni Eropa. Cina sangat tertarik dengan standar legalitas yang dimiliki Indonesia, sehingga Cina saat ini sedang dalam proses memperketat peraturan lingkungan mereka sendiri dan menerapkan sistem untuk meyakinkan pasar bahwa produk kayu  mereka – baik kayu impor dan maupun domestik – adalah sah secara hukum.

http://www.thejakartapost.com/news/2011/05/04/timber-trade-transformation-asia.html

 

Kemitraan Global dalam Memerangi Perubahan Iklim
8 April 2011

Sesuai dengan perundingan iklim di Bangkok, perwakilan The Nature Conservancy, Wahjudi Wardojo dan Duncan Marsh, menegaskan mendesaknya kebutuhan kerjasama global antara negara-negara untuk bersama-sama memerangi perubahan iklim dan merealisasikan perjanjian Cancún dengan tindakan. REDD + adalah salah satu topik yang dibahas di perundingan iklim yang didukung PBB ini, yang telah menunjukkan kemajuan yang berarti dan mendapat dukungan politik secara luas. Indonesia telah membuat komitmen yang berani untuk mengurangi emisi sebesar 26%, yang sebagian besar akan berasal dari sektor hutan, dan bekerja sama dengan mitra internasional untuk mencapai tujuan ini. Meski banyak pekerjaan sulit, upaya Indonesia bisa dijadikan sebagai contoh yang baik tentang kemitraan terkait perubahan iklim ke seluruh dunia.

http://www.thejakartapost.com/news/2011/04/08/a-global-partnership-fight-climate-change.html

 

Ancaman Kepunahan Orangutan
23 Maret 2011

Pada2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan Rencana Gerakan Nasional Konservasi Orangutan, sebagai agenda yang ditargetkan dan dilaksanakan secara perdana untuk melindungi spesies utama Indonesia tersebut. Meskipun sudah ada inisiatif tersebut, perwakilan The Nature Conservancy, Rondang SE Siregar, berpendapat bahwa ada banyak faktor yang terus mengancam keberadaan orangutan. Ancaman tersebut  termasuk hilangnya habitat orangutan akibat peralihan penggunaan lahan, kebakaran hutan, perdagangan satwa liar, dan kebutuhan makanan manusia. Upaya rehabilitasi, pengenalan kembali, serta relokasi hingga saat ini terbukti tidak cukup untuk memecahkan masalah ini. Keberhasilannya tergantung pada kemampuan untuk menggalang orang-orang dari berbagai lembaga, termasuk LSM, masyarakat lokal dan lembaga pemerintah, untuk memiliki satu visi tentang cara melestarikan orangutan kita tercinta.

Orang Utan di Hutan Borneo, Kalimantan Timur

http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/23/the-danger-orangutan-extinction.html

 

Hak Masyarakat Hutan Adat dan REDD di Kalimantan Timur
17 Desember 2010

Pada artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Jill Blockhus serta perwakilan Community Forestry International, Mark Poffenberger berpendapat bahwa REDD + memungkinkan untuk memulihkan hak-hak masyarakat adat atas tanah dan hutan. Kerangka kerja yang dimiliki  REDD+ akan mampu mendukung dan meningkatkan pengakuan hukum, pembatasan, dan perlindungan tanah  dan wilayah  adat. Mengakui hak-hak masyarakat hutan, dengan memberikan kompensasi secara adil  atas peran penting mereka dalam  perlindungan dan perawatan ekosistem, dapat mengurangi konflik sosial serta  memberdayakan masyarakat lokal dan masyarakat adat untuk terus melindungi dan memulihkan hutan untuk generasi mendatang.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/12/17/indigenous-peoples’-forest-rights-and-redd-east-kalimantan.html

 

Solusi Perubahan iklim: Cina Menjawab Tantangan Perubahan Iklim dengan Pendekatan Dinamis
19 Oktober 2010

Perwakilan The Nature Conservancy, Duncan Marsh mengisahkan peristiwa di Tianjin, kota penyelenggara perundingan iklim terakhir sebelum Cancun. Peran China sangatlah penting sebagai tuan rumah dari perundingan ini. Sebagai penyumbang gas rumah kaca terbesar di dunia, China menerapkan inisiatif utama dalam pengadaan energi terbarukan serta dalam penghematan energi dan telah menjadi penghasil dan pengguna terkemuka di dunia dari berbagai teknologi tersebut. Artikel ini membahas beberapa pendekatan dinamis yang dilakukan Cina untuk mengatasi tantangan iklim di negara tersebut dan bisa dijadikan pelajaran bagi Indonesia dan dunia.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/10/19/climate-solutions-china-tackling-climate-change-challenges-with-dynamic-approach.htm

 

Solusi Perubahan Iklim: Memprioritaskan investasi untuk REDD +
21 September 2010

Pada artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Dicky Simorangkir menyoroti beberapa elemen penting atas keberhasilan pelaksanaan Kemitraan Iklim Norwegia-Indonesia dan mengkaitkan ini ke masalah yang lebih besar dari investasi REDD + di Indonesia. Sementara negara-negara lain dikritik karena lemahnya target pengurangan emisi mereka dan menunda gerakan memerangi perubahan iklim, Indonesia menunjukkan diri sebagai pelopor. Pada 2009, Presiden berkomitmen untuk mengurangi emisi sebesar 26 persen menggunakan sumber daya sendiri dan memulai proses perencanaan nasional yang ambisius dengan REDD + sebagai bagian penting. Indonesia saat ini menghadapi keputusan penting dalam mengembangkan strategi untuk menjadikan komitmen ini ke tindakan nyata. Kemitraan dengan Norwegia ini akan berperan penting dalam menentukan bagaimana sumber daya yang langka diinvestasikan, dan menjelaskan bagaimana REDD + diimplementasikan di
Indonesia.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/09/21/climate-solutions-prioritizing-investments-redd.html

 

Solusi Perubahan Iklim: Mengarahkan Tepat ‘jantung’ di Coral Triangle
4 April 2010

Pada 22 April, dunia akan memperingati Hari Bumi, dan tahun ini fokusnya adalah pada 70 persen dari luas permukaan bumi – lautan kita. Bagi banyak orang, lautan tampak misterius dan begitu luas. Selama ini kita telah menganggap lautan sebagai kolam yang sangat luas yang bisa kita ambil kekayaannya dan dijadikan tempat pembuangan sampah, endapan dan limbah beracun. Tapi sekarang ada bukti jelas bahwa lautan kita tidak hanya tertekan tetapi juga hancurnya terumbu karang, menipisnya jumlah ikan dan menurunnya kualitas air akan mempengaruhi kita semua.

Beautiful Landscape Raja Ampat. ©Purwanto

 http://www.thejakartapost.com/news/2010/04/20/climate-solutions-getting-it-right-‘heart’-coral-triangle.html

 

Indonesia di Persimpangan Jalan: Perubahan Iklim dan Tantangannya
23 Maret 2010

Pada KTT G8 ekonomi global di Pittsburgh, September lalu, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa Indonesia akan mengurangi emisi karbon sebesar 26 persen pada 2020, dengan sebagian besar pengurangannya berasal dari sektor kehutanan – sekitar 13,3 persen. Pada artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Damayanti Buchori menguraikan beberapa tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam menerjemahkan visi ini menjadi kenyataan, demikian juga dengan kemajuan dari strategi pembangunan berkesinambungan di wilayah-wilayah negara yang menjadi panutan untuk membantu Indonesia mencapai tujuan iklim dan pembangunan yang ambisius tersebut .

http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/23/indonesia-crossroads-climate-change-and-its-challenges.html

 

Mengelola Habitat Paus Sekaligus Melindungi Perikanan
14 Mei 2009

Pada Konferensi Kelautan Dunia di Manado, pemerintah Indonesia membuat sejumlah komitmen penting untuk melindungi keanekaragaman hayati dan perikanan dari laut kita secara berkesinambungan. Deklarasi yang dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi atas 3,5 juta hektar Taman Nasional Laut Sawu, 13 Mei ini, menjelaskan keunikan alam dari dari daerah yang menjadi tempat perlindungan ikan paus sekaligus dan menyediakan perikanan bagi kepentingan masyarakat setempat. Pada artikel ini, Benjamin Kahn dan Johannes Subijanto menceritakan pentingnya deklarasi ini, termasuk melindungi habitat bagi dua spesies paus, mendukung perikanan produktif dan memperkuat ketahanan kekayaan terumbu Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global.

Migrasi Paus di Kofiau, Raja Ampat

http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/14/managing-whale-hot-spots039-while-protecting-fisheries.html

 

Dapatkah Kawasan Perlindungan Laut Membantu Menjaga Perikanan dan Terumbu Karang?
12 Mei 2009

Daerah perlindungan laut (Marine Protected Areas/MPA) adalah perangkat penting untuk melindungi habitat terumbu karang dan mengelola perikanan di sekitar pantai sambil terus berperan penting dalam konservasi keanekaragaman hayati laut, bukanlah informasi baru. Hal yang tidak banyak diketahui adalah bahwa hanya dengan melindungi satu MPA kecil tidaklah cukup atau selesai sudah perjuangannya. Pada artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Alan White dan Rili Dohanji menguraikan temuan dari sebuah penelitian pada 2008 tentang munculnya jaringan MPA di Indonesia, Filipina dan Papua Nugini, yang dibentuk bersama-sama dengan CI, WCS dan WWF. Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan besar antara teori dan praktek dari membuat MPA dan jaringan MPA yang fungsional.

Keindahan Ekosistem Terumbu Karang Indonesia

http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/12/can-marine-protected-areas-help-safeguard-fisheries-and-coral-reefs.html

 

Hasil KTT Perubahan Iklim 2009 dan Kegagalan Kita Sebagai Manusia
26 Desember 2009

KTT perubahan iklim global hampir berakhir. Apa hasilnya? Ada yang bilang “buruk” ada juga yang bilang “lebih baik daripada tidak sama sekali”, sementara Presiden AS Barack Obama menyatakan bahwa mereka telah membentuk ” satu kesepahaman yang akan menjadi dasar bagi aksi global melawan perubahan iklim untuk tahun-tahun ke depan”. Pada artikel ini, perwakilan The Nature Conservancy, Damayanti Buchori menggambarkan pada apa yang dicapai- dan tidak dicapai – serta apa yang dibutuhkan untuk melangkah maju.

http://www.thejakartapost.com/news/2009/12/26/climate-change-summit-2009-results-and-our-failure-a-human-race.htmla