-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Kawasan Berau – © Bridget Besaw
The Conservancy bekerja di seluruh wilayah Berau, dan di beberapa bagian dunia, untuk memetakan dan menyediakan alternatif untuk mengurangi penebangan liar di hutan.
-
Tidak hanya isu global, hal ini juga merupakan isu lokal. Jika pohon terlalu banyak ditebang, maka hal ini dapat merusak habitat satwa penting, yang juga melemahkan masyarakat setempat.
-
Mengingat bahwa penggundulan hutan di seluruh dunia menyumbang 17 persen dari polusi karbon dan heat-trapping setiap tahunnya , maka penggundulan hutan di Indonesia merupakan isu global
-
-
-
-
Tuan Rumah – © Robert Lalasz/TNC
Orang-orang Dayak adalah tuan rumah yang sangat luar biasa. – © Robert Lalasz/TNC
-
Memasak Sagu – © Robert Lalasz/TNC
Setelah dimasak, sagu akan menjadi bentuk gelatin. Tidak ada masalah, namun memang memasak nasi lebih cepat dari hal ini! – © Robert Lalasz/TNC
-
Pasta Sagu – © Robert Lalasz/TNC
Pada akhirnya pulp akan menjadi adonan menyerupai pasta melalui proses ini. – © Robert Lalasz/TNC
-
Mencuci Sagu – © Robert Lalasz/TNC
Pulp sagu lalu dicuci berkali-kali di dalam anyaman tikar dengan air sungai. – © Robert Lalasz/TNC
-
Menginjak Sagu – © Robert Lalasz/TNC
Batang pohon sagu ditumbuk di atas anyaman palem – semua orang melepaskan alas kaki mereka sebelum melangkah ke atas palem, mengikuti tata cara upacara. – © Robert Lalasz/TNC
-
-
Persiapan Upacara – © Robert Lalasz/TNC
Semua hal untuk upacara pembuatan sagu dipersiapkan dari bahan-bahan alami di daerah ini. – © Robert Lalasz/TNC
-
Penganyaman Tikar – © Robert Lalasz/TNC
Penganyaman tikar dari pohon palem untuk upacara pembuatan sagu. – © Robert Lalasz/TNC
-
Pohon Sagu – © Robert Lalasz/TNC
Pohon sagu dibawa keluar hutan © Robert Lalasz/TNC
-
Bubur Kertas – © Robert Lalasz/TNC
Butuh waktu 5 jam untuk membuatnya, dari bubur kertas. – © Robert Lalasz/TNC
-
Makanan Pokok – © Robert Lalasz/TNC
Sagu adalah makanan pokok tradisional suku Dayak, yang berasal dari pohon. – © Robert Lalasz/TNC
-
Dampak Pembalakan Liar – © Robert Lalasz/TNC
Dampak pembalakan liar di sini adalah berkurangnya satwa yang dapat diburu. – © Robert Lalasz/TNC
-
Panah Beracun – © Robert Lalasz/TNC
Mak Goes memperlihatkan panah beracunnya. – © Robert Lalasz/TNC
-
Mak Goes – © Robert Lalasz/TNC
Mak Goes, penduduk suku Dayak yang memperlihatkan bagaimana cara dia berburu dengan menggunakan anak panah beracun dan sumpit pemberian ayahnya. – © Robert Lalasz/TNC
-
Cuaca di Bulan November – © Robert Lalasz/TNC
Itu adalah aku di tengah, terlihat pucat dan berkeringat. Bahkan di bulan November, cuaca di sini mencapai 32 derajat Celcius. – © Robert Lalasz/TNC
-
Lihat lebih dekat, dan kau akan melihat lintah di tangan kolegaku. Makhluk ini tidak berbahaya, namun dapat menyedot darah selama berhari-hari. – © Robert Lalasz/TNC
-
Konservasi Sambil Bernyanyi – © Janni Rotinsulu / Conservation International
Para pendidik mengajarkan anak-anak permainan seperti “detektif mangrove”, dan lagu mengenai konservasi laut. © Janni Rotinsulu/ Conservation International
-
64 Juta Hektar Hutan yang Sia-sia – © Bridget Besaw
Lebih dari 64 juta hektar hutan Indonesia telah habis sejak tahun 1990 – sebuah area yang lebih besar daripada negara bagian Oregon. © Bridget Besaw
-
Penggundulan Hutan – © Bridget Besaw
Indonesia adalah negara di peringkat ke-3 penghasil karbon di bawah Amerika Serikat dan Cina. 80% dari emisinya dihasilkan dari penggundulan hutan. © Bridget Besaw
-
Ayo Belajar Mengenal Lautan – © Irman Meilandi/Conservation International
Kapal Kalabia berlayar menuju daerah-daerah terpencil, dan para pendidik memanfaatkan waktu selama tiga hari untuk mengajarkan mereka tentang terumbu karang, dan mengapa kita harus menjaganya. © Irman Meilandi/Conservation International
-
Program Pendidikan Kalabia Marine – © Edwin Shri Bimo (TNC)
Anak-anak mendapatkan kesempatan pertama untuk menjelajahi keajaiban alam di sekeliling mereka. Terima kasih kepada program pendidikan Kalabia Marine, proyek gabungan The Conservancy dan Conservation International. © Edwin Shri Bimo (TNC)
-
Anak-anak Raja Ampat – © Max Binun Conservation International
Tahukah kamu bahwa 75% anak di Raja Ampat bahkan tidak pernah melihat karang laut mereka yang sangat tersohor itu? © Max Binun Conservation International
-
Anak Laut – © Christopher J. Crowley
Namun jangan mengabaikan keragaman ini. © Christopher J. Crowley
-
Kalabia – © Christopher J. Crowley
Bayangkan hidup di tempat yang keanekaragaman hayati lautnya tertinggi di dunia. © Christopher J. Crowley
-
Table coral sepanjang tepian adalah tempat strategis bagi Gerry Allen untuk sampling ikan. © Emre Turak
-
Menghitung Ikan – © Andreas Muljadi
Hobi Alison Green — menghitung ikan di Halmahera. © Andreas Muljadi
-
Nemo ditemukan, hidup dan baik-baik saja di Halmahera. © Andreas Muljadi
-
Tim Monitoring: Uda, Andreas, Asril, Ucu, Indra, Ali dan Erdi. © TNC
-
Seven Seas, rumah sekaligus kapal survey tim selama empat minggu. Ini adalah kapal asli Indonesia dengan lantai kayu jati, dirancang sebagai kapal yang mengantar ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. © Alison Green
-
Penebangan Berkelanjutan – © Robert Lalasz/TNC
Arti penebangan berkelanjutan: mendapatkan nilai gelondongan yang tinggi dari hasil hutan dalam skup tertentu, tanpa merusak hutan. © Robert Lalasz/TNC
-
Logging Camp – © Robert Lalasz/TNC
Jalanan dari logging camp. © Robert Lalasz/TNC
-
Beasiswa – © Robert Lalasz/TNC
Salah satu kesepakatan adalah terjaminnya masa depan pendidikan masyarakat, di antara banyak keuntungan lainnya. © Robert Lalasz/TNC
-
Hasil Kesepakatan – © Robert Lalasz/TNC
Hasil kesepakatan antara masyarakat lokal dan Sumalindo membawa listrik, tv. © Robert Lalasz/TNC
-
Sungai Segah – © Robert Lalasz/TNC
Sungai Segah, satu-satunya moda transportasi sebelum jalan menuju Laai Panjang dibangun. © Robert Lalasz/TNC
-
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras interdum magna vitae diam adipiscing interdum. Maecenas vel commodo felis. Maecenas laoreet dictum vehicula. Sed arcu nisi, dapibus eu aliquam in, mattis laoreet ipsum.



































